Categories
Teknologi

Kreatif dan Belajar Hidup dengan Pendidikan STEM bersama autotrade gold

Kreatif dan Belajar Hidup dengan Pendidikan STEM bersama autotrade gold

Di masa depan, kebutuhan akan tenaga kerja yang mampu menyelesaikan masalah dengan menciptakan solusi yang diperoleh dari pemahaman berbagai disiplin ilmu kian dibutuhkan. “Di Indonesia saat ini banyak rekan-rekan sa ya yang duduk di HRD kesulitan mencari tenaga kerja yang berkualitas. Sementara di luar sana, masih banyak sarjana-sarjana yang menganggur.

Mesti ada yang salahdengan pendidikan kita,” tutur Ainun Chomsun, salah satu pengamat pendidikan dan penggerak aksi sosial pendidikan, Akademi Berbagi. Keprihatinan lain datang dari Nenny Soemawinata, Managing Director Putera Sampoerna Foundation-PSF, yang menyatakan bahwa Indonesia kekurangan tenaga manajerial yang andal. Menurutnya, berdasarkan penelitian Boston Consulting Group, pada 2020 negara ini akan kekurangan 40 sampai 60% tenaga kerja untuk mengisi posisi manajerial menengah dan 55% tenaga administrasi terampil. Dikhawatirkan, dengan dibukanya keran ekonomi terbuka, posisi-posisi ini akan diisi oleh tenaga kerja ahli asing.

Salah satu kelemahan anak didik di Indonesia menurut Nenny, adalah kurang mampunya menyelesaikan masalah dan berpikir logis dan sistematis. Mendukung pernyataan ini, Ainun lantas menceritakan bagaimana ketika ia bekerja di sebuah perusahaan iklan dengan manajer asing. Menurutnya, meski bekerja di perusahaan kreatif, namun bosnya tetap menerapkan deadline ketat dan menyusun cara kerja yang runut dan sistematis. Pelaporan pun dibuat rutin. “Laporan saya sering kali dikembalikan karena cara penulisannya yang tidak to the point,” paparnnya. Selain itu, berdasarkan data BPS pada 2010, Indonesia hanya memiliki 22,1 juta tenaga kerja terampil dan 6,5 juta tenaga ahli.

Padahal pada 2030 Indonesia diprediksi menjadi ekonomi ketujuh terbesar di dunia. Dengan demikian, menurut McKinsey Global Institute, Indonesia membutuhkan 113 juta pekerja yang memiliki keahlian dan keterampilan. Untuk mengejar ketertinggalan ini, Nenny menyebutkan bahwa pendidikan yang menekankan pada STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematics) bisa menjadi solusi. Pendidikan STEM bisa membentuk siswa untuk bisa berpikir kritis, logis, dan sistematis seperti diungkap M. Ikhlasus Amal (Peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI). Nenny juga menambahkan bahwa STEM pun dapat mengasah soft skill siswa untuk mampu memecahkan masalah dan mengasah pemikiran kritis.

Sedikit mengherankan memang, mengapa ilmu eksakta yang begitu kental dalam pendidikan STEM bisa membangkitkan pemikiran kritis dan kreatif siswa? Padahal selama ini ilmu eksakta dipersepsikan kaku dan membuat siswa berpikir linier. David Steel (Executive Vice President of Samsung Electronics America) menjelaskan bahwa kesalahan terletak pada metode pengajarannya. “Para guru kesulitan untuk meletakkan dasar ilmu science atau matematika jika hanya mengguanakan kurikulum pemerintah. Anak-anak hanya mempelajari science dan matematika di kelas. Cuma dengan menghapal dan sulit mencari koneksi antar mata pelajaran itu,” terangnya.

Sumber ; autotradgold.space

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *