Categories
Parenting

Belajar Bersyukur

Meskipun si prasekolah masih dalam fase egosentris alias mau-maunya sendiri, ia bisa mulai diajarkan untuk bersyukur agar kemampuan empatinya terasah. “Ma, aku mau mobil-mobilan itu!” pinta Rakha, 5 tahun. Astri, Mama Rakha, hanya menggeleng mende ngar permintaan putranya. Bukan apa-apa, hampir setiap bulan Rakha pasti minta dibelikan mainan.

“ tempat untuk kursus bahasa Jerman di Jakarta Selatan terbaik “ sat-jakarta.com

Satu dua kali Astri masih mau membelikan. Namun, lama-kelamaan Astri bersikeras untuk tidak mengabulkannya. Mobil-mobilan hanya dibelikan saat Rakha dianggap berprestasi atau merayakan momen istimewa. Akan tetapi, aturan yang diberlakukan Astri itu kerap gagal, manakala Rakha berhasil merayu papanya, juga eyangnya. Berulang kali Astri mengingatkan, agar jangan terlalu sering membelikan Rakha mainan, tetapi malah ia yang dimarahi.

Eyang Rakha selalu bilang, “Ya kan namanya mau menyenangkan cucu.” Sementara suaminya berkata, “Lo, baru beli minggu lalu ya? Duh, maaf Papa lupa, kirain itu bulan lalu.” Astri khawatir, mainan Rakha kini menumpuk di rumah, sementara Rakha terus dibelikan mainan baru. Padahal, tidak semua mainan itu dimainkan Rakha, malah banyak yang didiamkan begitu saja hingga rusak. Astri ingin sekali Rakha belajar menghargai semua barang yang dibelikan atau diberikan orang padanya.

Belajar Dari Orangtua

Bingung juga ya mengajari anak untuk lebih menghargai barang yang ia punya, bahasa lebih ringkasnya: mengajari anak bersyukur. Apalagi, memang anak prasekolah sedang dalam fase egosentris alias self-centered, kemampuan menilai apa yang terjadi di sekitarnya baru sebatas dari satu perspektif saja. Meskipun demikian, tetaplah penting untuk mengajak anak lebih bersyukur pada apa yang ia miliki, sekalipun konsep ini tampak abstrak baginya.

Meski anak memandang dirinya sebagai pusat dari segala hal, anak sebetulnya tetap bisa menangkap konsep yang kita sampaikan. Pada saat usia anak lebih muda, anak mulai memahami bahwa ia sebetulnya bergantung pada mama papanya, bahwa Mama Papa melakukan hal ini dan itu untuk dirinya. Anak tahu jika ia dan orangtuanya adalah orang yang berbeda, ia adalah individu sendiri. Saat kita bercanda, memeluk, bermain cilukba dengan si kecil, ia akan tertawa merespons pada hal tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *