Categories
Berita

Kue Lumpur Ungu ala Nasi Kotak Jakarta Selatan

Kue Lumpur Ungu ala Nasi Kotak Jakarta Selatan – Di tangan Fitria, kue lumpur tampil lebih cantik dengan tambahan bahan ubi ungu. Warna ungu pada kuenya dan cita rasanya yang lezat, berhasil menarik semakin banyak pembeli yang terbuai dengan kelezatannya. “Saya memang suka ubi ungu, selain rasanya manis, warnanya cantik,” tuturnya.

Berawal dari ingin mencari kesibukan selain mengurus anak di rumah, Fitria memutuskan berjualan kue lumpur. Semula, ia pun tak langsung mahir membuat kue lumpur. Fitria mempelajari resepnya secara otodidak. Ia mengaku tak menemui banyak kendala, hingga hanya perlu 2 kali uji coba untuk mendapatkan resep terbaik. Namun untuk mendapatkan hasil kue lumpur yang super lembut, Fitria sangat berhati-hati dalam memilih ubi ungu. Ia hanya memilih ubi ungu yang kulitnya bersih dan masih segar. Sebelum diproses jadi adonan, Fitria mengukus dulu ubi ungunya hingga matang.

Setelah dikupas bersih, ubi ungu diblender bersama santan hangat hingga benar-benar halus. Demi mendapatkan warna ungu yang terang, Fitria menggunakan komposisi 2:1. “misalnya saya pakai 200 gram ubi ungu, maka saya pakai tepung terigunya 100 gram,” ujarnya. Tampilan kue lumpur ubu ungu buatan Fitria terlihat semakin cantik dengan tambahan aneka toping, seperti kismis, keju, dan nangka.

Fitria juga bisa menyediakan toping yang sesuai permintaan pembeli. “Topingnya bisa disesuaikan dengan selera pembeli, selain kismis, keju, atau nangka,” ujarnya. Fitria melayani pesanan minimal 50 buah kue lumpur. Saat ini Fitria menjual kue lumpurnya secara online via Instagram yang dikelolanya sendiri. Kue lumpur ubi ungu yang dijual di kawasan Bandung dan sekitarnya ini harganya Rp 3 ribu per buah.

Strategi Efisiensi Biaya Pembelian Peralatan Penunjang Usaha • Usaha kue lumpur pasti membutuhkan biaya untuk membeli palat produksi atau penjualan. Efisiensi penggunaan alat untuk usaha akan mengurangi pengeluaran pembelian alat baru. • Pembelian alat disesuaikan jumlah dan jenisnya dengan kebutuhan usaha. Jangan berlebihan karena akan boros biaya. • Lakukan inventarisasi alat usaha setiap bulan. Tujuannya, untuk mengetahui kondisi dan jumlahnya. Jika terjadi kerusakan dapat segera diperbaiki, melakukan perawatan agar lebih awet, dan terpantau jumlahnya. Rutin melakukan pengecekan akan lebih efisien pada penggunaan alat hingga bisa mengontrol kehilangan dan kerusakan alat. • Buat daftar umur ekonomis dari tiap alat usaha. Contoh, kompor maksimal digunakan 5 tahun, dan lainnya. Jika dalam inventaris barang sering terdapat barang tak bisa lagi digunakan di bawah umur ekonomis, maka perlu pengamatan lebih lanjut dalam penggunaan alat karena menyebabkan tak efisien soal lamanya waktu penggunaan alat.

sumber : https://salamacatering.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *