Latihan Keras, Anak Menjadi Luar Biasa Bagian 2

Ketika ia menonton tayangan di televisi dan mendengar percakapan, tagline, atau kalimat tertentu yang menarik, ia akan cepat menirunya dengan gaya dan intonasi yang persis sama. Di rumah pun, ketika berbicara, ia melakukannya dengan lancar, mudah memberi alasan-alasan, sering berbicara dan sulit dihentikan, serta lainnya. Demikian pula dengan bakat lain, entah itu melukis, bermain musik, bernyanyi, dan lainnya. Mama Papa dapat memberikan percobaanpercobaan kecil, seperti: memberikan kertas dan pensil warna.

Anak yang berbakat melukis biasanya memiliki kualitas garis yang lebih baik, lebih lurus, halus, dan kuat. Ia pun mengerti warna, komposisi warna, perpaduan warna, sehingga hasilnya akan terlihat lebih bagus dibandingkan anak lain. Berikan juga peralatan musik, ajak ia bermain musik bersama. Ketika ia mudah memahami not-not balok, koordinasi jari dan rasa saat memetik gitar berjalan cukup baik, mungkin saja ia berbakat di bidang musik. Intinya, lakukanlah percobaan atau uji coba di rumah untuk mendeteksi dimana sebenarnya potensi dan bakat anak.

Konsultasi Ahli

Mungkin Mama Papa kesulitan atau bingung mengamati bakat anak karena eksplorasi yang dilakukan tidak cukup baik. Bila demikian, berkonsultasilah ke ahli, seperti psikolog atau pendidik. Mereka akan melakukan observasi dan beberapa tes bakat untuk “membaca” di mana potensi anak, apakah di bidang kinestetik yang terkait dengan ­ sik ataukah kognitif, yakni di bidang ilmu pengetahuan. Dari hasil tersebut akan diketahui bakat dan potensi yang dimiliki anak.

Tak hanya itu, para ahli ini pun biasanya memberikan arahan dan solusi bagaimana cara mengembangkan bakat anak supaya tumbuh optimal. Konsultasi ini sangat penting supaya Mama Papa memahami bakat anak dan melakukan yang terbaik buat mereka mengembangkannya. Sangat disayangkan jika ketidaktahuan orangtua membuat anak tidak dapat mengembangkan potensi dan bakat yang dimilikinya.

Latihan Keras, Anak Menjadi Luar Biasa

Ya, untuk menjadi luar biasa harus ada latihan yang luar biasa pula. Jangan sia-siakan bakat besar anak. Namanya Yoga, usianya baru 12 tahun, pandai sekali menyanyikan lagu dangdut. Cengkok suaranya pun sangat enak didengar seolah ia sudah menjadi penyanyi dangdut puluhan tahun. Para juri sebuah ajang adu bakat di televisi pun dibuat terpesona oleh suara Yoga. Lain hal dengan Sandrina, di usia 10 tahun, kemampuan melenggak lenggoknya mengundang decak kagum banyak orang. Begitu tegas, ajek, juga gemulai, bergantung pada kebutuhan gerak dari jenis tari yang ia mainkan.

Bakatnya sungguh luar biasa, tak heran jika ia mampu menjuarai ajang adu bakat di televisi mengalahkan peserta yang usianya jauh di atasnya. Begitu pun dengan Tristan Alif Naufal, di usia 7 tahun telah menggegerkan dunia maya. Kemampuan mengolah bola yang diunduh ke Youtube membuat banyak orang berdecak kagum, termasuk Pep Guardiola yang saat itu menjadi pelatih di klub sepak bola Barcelona. Bakat bermain sepak bola yang luarbiasa ini membawa Alif ke Belanda untuk berlatih di sekolah sepak bola Ajax Amsterdam.

Cermati Bakat Anak

Setiap anak tentu punya bakat masing-masing. Ada yang pandai bernyanyi, menari, sepak bola, beladiri, melukis, mengarang, ataupun menjadi presenter karena kemampuan berbicaranya yang sangat baik. Umumnya, bakat mengacu pada keterampilan, seperti: keterampilan motorik, berupa karya yang secara kasat mata bisa dilihat oleh orang lain. Sandrina, misal, kepandaiannya melenggak-lenggok ditunjukkan lewat gerak ­ sik yang membuat orang lain tahu bahwa bakat menarinya luar biasa.

Umumnya, anak yang berbakat besar di salah satu bidang tertentu, minatnya jauh lebih besar dibandingkan anak yang bakatnya rendah. Seperti Alif, setiap hari pasti bermain bola, ia pun memiliki koleksi bola yang sangat banyak. Memang, tidak juga selamanya demikian, beberapa anak yang berbakat di bidang tertentu ternyata minatnya rendah sehingga tugas orangtualah untuk memotivasi dan mengarahkan. Bagaimanapun, bakat besar yang dimiliki anak tidak boleh disia-siakan. Kita perlu mendukung dan memfasilitasi supaya bakatnya tumbuh lebih besar lagi.

Begitu pun dengan anak-anak yang sesungguhnya berbakat besar, namun bakat tersebut tidak mencuat ke permukaan. Anak-anak yang seperti ini butuh pancingan, arahan, dan penggalian supaya bakatnya terlihat. Orangtua pun harus berusaha mencermati bakat dan potensi yang dimiliki anak. Umumnya, anak yang berbakat memiliki kemampuan menguasai sesuatu lebih cepat dibandingkan anak lainnya. Anak yang berbakat dalam bidang linguistik atau bahasa, misal, biasanya ia bisa meniru perkataan orang lain lebih cepat.

Berikut ini adalah informasi penting yang bisa mama dan papa jadikan referensi. Tempat terbaik kursus IELTS di Jakarta untuk persiapan anak yang akan menghadapi tes IELTS.

Bila Tak Disukai Teman

Ada juga anak yang ternyata kurang disukai oleh temantemannya. Ia tak menjadi idola bagi teman sepermainan. Boleh jadi anak ini memang bertemperamen slow to warm up. Artinya, ia cenderung membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan lambat dalam merespons suatu perubahan. Begitu pula dengan anak yang memiliki temperamen difficult child, ia cenderung memiliki mood yang kurang baik, sering kali menangis dan mudah curiga terhadap orang asing.

Akibatnya, anak mengalami kendala dalam bersosialiasi. Ia cenderung menolak untuk bermain dengan teman-temannya. Begitu pula ketika dihadapkan dengan permainan baru, anak ini akan sulit beradaptasi. Selain itu, anak yang memiliki kecemasan tinggi atau adanya tahapan perkembangan yang belum tuntas, juga menjadi salah satu faktor. Hal ini dapat memengaruhi kepercayaan diri si anak dan berakibat menjadi sulit berinteraksi dengan orang lain. Anak seperti ini perlu dibantu dengan mencoba mencari “kelebihan” yang bisa ia gunakan untuk menjadi modal dalam menjalin pertemanan di lingkungan sosialnya.

Umpama, bila ia mudah sekali menghafal lirik lagu anak-anak, coba minta ia menyanyi, mungkin ini bisa menjadi salah satu “daya pikat” bagi teman-temannya. Pendapat lain mengungkap, beberapa kemungkinan yang menyebabkan anak tak disukai teman dan cenderung jadi lebih suka main sendiri di rumah, di antaranya?

Berkarakter Soliter

Anak kurang nyaman berinteraksi dan saat bermain. Akan tetapi bukan berarti ia tak mau atau tak dapat bersosialisasi. Anak ini butuh pendampingan orang dewasa atau orangtua terlebih dulu sampai ia merasa nyaman berteman dan bermain. Hindari melabel anak dengan istilah kuper atau enggak gaul karena justru akan membuat ia makin sulit berinteraksi.

Faktor diri sendiri atau temannya

Anak tak merasa nyaman karena temannya berperilaku kurang disukai, seperti suka mendorong, merebut mainan, dan lainnya. Bila itu yang terjadi, jelaskan pada anak bahwa sikapnya itu kurang berkenan bagi teman sehingga ia dijauhi dan tak ada yang mau menemani bermain.

Simak juga informasi lengkap mengenai tempat kursus bahasa Prancis di Jakarta yang terbaik untuk anak yang ingin mahir dalam berbahasa asing terutama bahasa Perancis.

Bermain Sebagai Stimulasi

Ada banyak manfaat yang bisa dipetik bila anak bermain bersama teman-temannya, yaitu :
keterampilan motorik

Ketika bermain bersama teman, banyak gerakan fisik yang bisa dilakukan, seperti : melompat, ebrlari, lempar-tangkap bola, dan sebagainya.

Keterampilan bahasa

Keterampilan berkomunikasi dan berbahasa makin berkembang. Ketika mereka mengobrol, bercerita tentang permainan yang dilakukan itu sekaligus sebagai stimulasi.

Keterampilan berbagi

Anak belajar berbagi dan bergantian memainkan boneka, sepeda, ayunan dan sebagainya. Anak jadi tak mau menang sendiri, justru terasah untuk menjadi anak yang baik dan murah hati, suka membantu, bahkan disiplin.

Kemampuan berempati

Misal, tiba-tiba temannya terjatuh karena terpeleset, anak akan mencoba menolong semampunya. Membagi kue yang dibawa juga termasuk dalam stimulasi mengasah empati.

Keterampilan mengendalikan emosi

Ketika mereka bertikai karena berebut mainan, sekaligus melatih mengendalikan emosi. Mama bisa berusaha mengalihkan pada mainan/permainan lain atau mengajak anak menjauh dari teman tersebut untuk sementara waktu.