Categories
Teknologi

Freelancer ala NET89 Harus Bisa “Segalanya”

Freelancer ala NET89 Harus Bisa “Segalanya” – Aries Pranata dan Silviani Saputra, Freelancer. Ada banyak hal berbeda yang perlu Anda ketahui sebelum menjadi seorang freelancer. Aries Pranata dan Silviani Saputra adalah contoh developer dan desainer yang konsisten berkarya melalui jalur ini. Mereka berdua memiliki latar belakang bidang yang berkaitan dengan dunia multimedia, dan dalam beberapa kesempatan, bekerja sama dalam membuat proyek. Proyek yang mereka tangani pun beragam.

Aries banyak menangani proyek yang bersifat multimedia interaktif seperti company profile beberapa lembaga pendidikan, simulator kaca mobil, hingga menjadi salah satu tenaga yang terlibat dalam proyek Pemerintah Kota Surabaya yang sedang berlangsung, yaitu :Badan Perencanaan & Pembangunan Kota (BAPEKKO) Surabaya. Sedangkan Silviani, merupakan character designer yang beberapa karyanya bisa Anda lihat ketika menggunakan mobile messenger terkenal, KakaoTalk. Dalam beberapa kesempatan, Silviani juga berkolaborasi dalam pembuatan website perusahaan besar seperti Hartono Elektronika.

Hal pertama yang dirasakan oleh seorang freelancer adalah sebuah paradigma yang menganggap para pelakunya sebagai orang yang menganggur dan kurang produktif. Butuh waktu untuk memperlihatkan kepada orang lain kalau seorang freelancer benar-benar bekerja, termasuk meyakinkan keluarga. Para freelancer juga harus bisa meyakinkan keluarga mereka bahwa yang mereka lakukan ini benar-benar membuahkan hasil. Semuanya tentu membutuhkan waktu dan tidak bisa instan menghasilkan. “Meski awalnya keluarga meragukan, mereka akan paham ketika saldo di rekening kita bertambah,” ujar Silviani sambil tertawa.

Hal kedua yang perlu Anda ketahui adalah cara melakukan promosi. Tentu saja, sebuah jasa yang berkualitas baik, tidak akan dikenal jika tidak melakukan promosi. Namun, berdasarkan pengalaman mereka berdua, metode promosi yang dilakukan oleh seorang freelancer sebaiknya berbeda. “Tidak efektif jika membuat brosur lalu menyebarkannya kemana-mana,” kata Silviani. Menurut lulusan Universitas Ciputra ini, portofolio akan jauh lebih efektif. Mustahil menawarkan sebuah jasa tanpa contoh produk. Maka dari itu, promosi yang paling efektif sebagai seorang freelancer adalah promosi dari mulut ke mulut.

Sumber : https://net89.net/

Categories
Teknologi

Dropbox Adalah Penyimpanan File Yang Aman

Angka-angka mengatakan mereka peringkat sebagai dua layanan penyimpanan cloud pribadi paling populer saat ini, tetapi ketika datang untuk memilih antara Dropbox atau Google Drive, bagaimana Anda memutuskan mana yang merupakan opsi hosting file yang lebih baik untuk dokumen, video, dan foto Anda?

Anda dapat menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mencobanya, membandingkan biaya dan fitur masing-masing, mengeluarkan stopwatch lama untuk menguji kecepatan sinkronisasi dan bereksperimen dengan aplikasi terintegrasi seperti Office Online dan Google Documents, tetapi sebenarnya tidak perlu.

Dropbox Adalah Penyimpanan File Yang Aman

Dropbox adalah tempat penyimpanan file yang aman dan berikut adalah perbandingan dropbox dengan penyimpanan google drive, simak berikut ini.

1. Dropbox

Seperti sudah dijelaskan diatas bahwa dropbox adalah penyimpanan file yang aman. Benar bahwa dropbox adalah temapt penyimpanan file yang aman. Namun pastinya setiap aplikasi mempunyai kekurangan dan kelebihan.
Bagi anda yang mencari jawaban singkat tentang layanan mana yang terbaik antara dropbox dan google drive, namun sebenarnya tergantung kebutuhan anda.

Baca Juga; Cara Belajar Bahasa Jerman 

Meskipun mungkin mengejutkan Anda bahwa kami tidak menempatkan Dropbox atau Google Drive di urutan teratas bagan penyimpanan cloud terbaik kami karena kombinasi dari keamanan yang lemah dan nilai yang terbatas, kedua layanan memiliki kinerja yang baik secara keseluruhan terhadap sebagian besar kompetisi yang termasuk dalam cloud kami perpustakaan penyimpanan ulasan.

Yang berfungsi paling baik untuk Anda akan bergantung pada kebutuhan Anda yang sebenarnya, karena Dropbox dan Google Drive melakukan hal-hal yang berbeda dengan sangat baik.

2. Google Drive

Bisnis untuk Google Drive, sementara itu, sedang booming. Hitungan terbaru yang tersedia, yang datang melalui pengumuman di atas panggung oleh CEO Google Sundar Pichai, adalah 800 juta pengguna aktif, dan beberapa miliar akun secara keseluruhan.

Hanya tiga tahun sebelumnya, pada 2014, Google Drive hanya memiliki 240 juta pengguna aktif.Namun, juga jelas bahwa Google Drive, lebih dari penyedia penyimpanan cloud lainnya, menantang Dropbox untuk supremasi.

Bagaimana ini dilakukan, itu adalah bagian dari pertanyaan yang akan kami jawab, karena kami mencocokkan Dropbox dengan Google Drive selama lima putaran: biaya penyimpanan, sinkronisasi file, berbagi file, alat produktivitas, keamanan, dan privasi.

Daftar ke akun Dropbox dan Anda akan mendapatkan 2GB gratis. Masalahnya, itu tidak terlalu banyak, dan tidak mendekati mengendus beberapa entri dalam artikel penyimpanan cloud gratis terbaik kami. Sebagian besar pengguna yang serius tentang Dropbox sebagai solusi penyimpanan cloud perlu meningkatkan ke langganan berbayar.

Untuk penyimpanan cloud pribadi, Anda dipaksa untuk langsung ke 1TB. Tidak ada jalan tengah dengan Dropbox, seperti paket 500GB 100GB. Selain itu, Anda tidak bisa mendapatkan lebih dari 1TB sebagai pengguna rumahan. Ada paket Dropbox Professional yang lebih mahal, tetapi itu tidak membuat Anda lebih banyak penyimpanan, hanya fitur yang lebih baik.

Sekian untuk penjelasan dropbox adalah penyimpanan file yang aman dan juga perbandingannya dengan google drive. Semoga bermanfaat

Categories
Teknologi

Kreatif dan Belajar Hidup dengan Pendidikan STEM bersama autotrade gold

Kreatif dan Belajar Hidup dengan Pendidikan STEM bersama autotrade gold

Di masa depan, kebutuhan akan tenaga kerja yang mampu menyelesaikan masalah dengan menciptakan solusi yang diperoleh dari pemahaman berbagai disiplin ilmu kian dibutuhkan. “Di Indonesia saat ini banyak rekan-rekan sa ya yang duduk di HRD kesulitan mencari tenaga kerja yang berkualitas. Sementara di luar sana, masih banyak sarjana-sarjana yang menganggur.

Mesti ada yang salahdengan pendidikan kita,” tutur Ainun Chomsun, salah satu pengamat pendidikan dan penggerak aksi sosial pendidikan, Akademi Berbagi. Keprihatinan lain datang dari Nenny Soemawinata, Managing Director Putera Sampoerna Foundation-PSF, yang menyatakan bahwa Indonesia kekurangan tenaga manajerial yang andal. Menurutnya, berdasarkan penelitian Boston Consulting Group, pada 2020 negara ini akan kekurangan 40 sampai 60% tenaga kerja untuk mengisi posisi manajerial menengah dan 55% tenaga administrasi terampil. Dikhawatirkan, dengan dibukanya keran ekonomi terbuka, posisi-posisi ini akan diisi oleh tenaga kerja ahli asing.

Salah satu kelemahan anak didik di Indonesia menurut Nenny, adalah kurang mampunya menyelesaikan masalah dan berpikir logis dan sistematis. Mendukung pernyataan ini, Ainun lantas menceritakan bagaimana ketika ia bekerja di sebuah perusahaan iklan dengan manajer asing. Menurutnya, meski bekerja di perusahaan kreatif, namun bosnya tetap menerapkan deadline ketat dan menyusun cara kerja yang runut dan sistematis. Pelaporan pun dibuat rutin. “Laporan saya sering kali dikembalikan karena cara penulisannya yang tidak to the point,” paparnnya. Selain itu, berdasarkan data BPS pada 2010, Indonesia hanya memiliki 22,1 juta tenaga kerja terampil dan 6,5 juta tenaga ahli.

Padahal pada 2030 Indonesia diprediksi menjadi ekonomi ketujuh terbesar di dunia. Dengan demikian, menurut McKinsey Global Institute, Indonesia membutuhkan 113 juta pekerja yang memiliki keahlian dan keterampilan. Untuk mengejar ketertinggalan ini, Nenny menyebutkan bahwa pendidikan yang menekankan pada STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematics) bisa menjadi solusi. Pendidikan STEM bisa membentuk siswa untuk bisa berpikir kritis, logis, dan sistematis seperti diungkap M. Ikhlasus Amal (Peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI). Nenny juga menambahkan bahwa STEM pun dapat mengasah soft skill siswa untuk mampu memecahkan masalah dan mengasah pemikiran kritis.

Sedikit mengherankan memang, mengapa ilmu eksakta yang begitu kental dalam pendidikan STEM bisa membangkitkan pemikiran kritis dan kreatif siswa? Padahal selama ini ilmu eksakta dipersepsikan kaku dan membuat siswa berpikir linier. David Steel (Executive Vice President of Samsung Electronics America) menjelaskan bahwa kesalahan terletak pada metode pengajarannya. “Para guru kesulitan untuk meletakkan dasar ilmu science atau matematika jika hanya mengguanakan kurikulum pemerintah. Anak-anak hanya mempelajari science dan matematika di kelas. Cuma dengan menghapal dan sulit mencari koneksi antar mata pelajaran itu,” terangnya.

Sumber ; autotradgold.space